“Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada
Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan
kita.” (1 Korintus 15:55-57)
Paulus menulis ayat ini bukan sebagai syair indah, melainkan ejekan
terhadap kuasa yang selama ini paling ditakuti manusia. Kata “sengat” dalam
bahasa aslinya berarti duri atau alat penyengat, seperti milik kalajengking.
Sengat maut adalah dosa (ayat 56), dan dosa memperoleh kekuatan dari hukum
Taurat yang kita langgar. Setiap orang hidup dalam kesadaran bahwa kita
pantas mati. Namun Paulus bertanya bukan karena ragu, melainkan karena
tahu jawabannya: sengat itu telah patah di kayu salib. Saat Yesus bangkit, Allah
secara resmi menyatakan lunas. Di zaman ini, ketika berita kejahatan
membanjiri linimasa dan kematian masih merenggut orang-orang terdekat,
ayat ini terasa seperti tantangan. Apakah kita sungguh percaya bahwa maut
sudah kehilangan taringnya?
Paulus tidak mengatakan bahwa kematian fisik lenyap. Kita masih mati.
Tetapi yang hilang adalah kemenangan, yang dalam aslinya berarti
kemenangan mutlak seorang jenderal. Dulu maut berdiri sebagai jenderal tak
terkalahkan, tertawa di atas setiap kubur. Namun Paskah membalikkan posisi:
maut bukan lagi pemenang, ia hanya bayangan yang berlari tunggang-langgang.
Ayat 57 meledak dalam ucapan syukur: “Syukur kepada Allah, yang telah
memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus.” Dalam tata bahasa
aslinya kata “memberikan” adalah tindakan selesai di masa lalu, tetapi efeknya
terus bergema. Dalam dunia yang masih dilanda konflik, penyakit, dan
ketidakadilan, kemenangan ini tidak meniadakan penderitaan, tetapi
menempatkannya di bawah kaki Kristus. Kejahatan masih bisa menyakiti,
tetapi tidak bisa mengutuk. Kematian masih bisa memisahkan, tetapi tidak bisa
mengakhiri.
Maka, jangan biarkan dunia membohongi kita bahwa gelap lebih kuat.
Renungkanlah sengat apa yang masih menusuk hatimu: rasa bersalah,
ketakutan akan ajal, atau kepahitan karena kejahatan tak dihukum? Dengarlah
Paskah berbisik: sengat itu sudah patah. Kubur kosong adalah bukti bahwa
maut kehilangan kemenangan. Bukan berarti kita tak lagi menangis, tetapi air
mata kita kini penuh harap. Bangkitlah. Sebab jika Allah sudah berkata “lunas”,
apa lagi yang berhak menuntut? Selamat Paskah. Haleluya.