Bayangkan seorang anak kecil tersesat di keramaian Orchard Road. Ia
panik dan merasa bersalah karena sempat melepaskan tangan ayahnya.
Namun sang ayah tidak menunggu, ia berlari mencari dan memeluk anaknya
kembali. Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa keselamatan bukan terutama
tentang seberapa kuat kita memegang Allah, tetapi tentang seberapa setia
Allah memegang kita.
Dalam Kitab Kejadian 15:7–21, Abram juga bergumul dengan janji
Allah. Ia percaya, tetapi bertanya, “Bagaimana aku tahu?” Allah merespons
dengan mengikat perjanjian melalui ritual pemotongan binatang—suatu
tindakan yang biasanya melibatkan dua pihak yang berjalan di antara
korban sebagai tanda komitmen. Namun yang terjadi justru mengejutkan:
Abram tertidur, dan hanya Allah, dalam lambang perapian berasap dan
suluh berapi, yang berjalan di antara potongan-potongan itu. Maknanya
sangat dalam: Allah sendiri yang menanggung seluruh tanggung jawab
perjanjian. Ini adalah perjanjian kasih karunia, bukan berdasarkan
kemampuan manusia, tetapi kesetiaan Allah. Abram bisa lemah, demikian
juga kita, iman kita sering goyah dan ketaatan kita tidak sempurna. Namun
dasar keselamatan kita bukan diri kita, melainkan Allah yang tidak berubah.
Ia setia meskipun kita tidak selalu setia, dan Ia tidak pernah meninggalkan
umat-Nya, bahkan di tengah pergumulan dan ketidakpastian hidup.
Janji ini mencapai puncaknya dalam Surat Ibrani 9:15, di mana Kristus
disebut sebagai Pengantara Perjanjian Baru. Melalui darah-Nya di salib, Ia
menanggung hukuman dosa dan meneguhkan janji keselamatan yang kekal.
Apa yang dinyatakan secara simbolis di Kejadian kini digenapi secara nyata
di dalam Kristus. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam iman yang
bersandar kepada-Nya. Ketika kita lemah, ingatlah: Allah tetap setia. Ketika
kita ragu, ingatlah: janji-Nya dijamin oleh darah Kristus. Keselamatan kita
aman—bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah setia.
Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam iman yang bersandar
kepada-Nya. Ketika kita lemah, ingatlah: Allah tetap setia. Ketika kita ragu,
ingatlah: janji-Nya dijamin oleh darah Kristus. Keselamatan kita aman,bukan
karena kita kuat, tetapi karena Allah setia, dan di dalam kesetiaan-Nya kita
memiliki pengharapan yang teguh, yang menolong kita berjalan dengan
keyakinan setiap hari.
- 3 May, 26
- 13:26
- Majelis One Sisfo