Ada seorang tokoh dalam Alkitab yang cukup misterius dan sulit
untuk dijelaskan siapa gerangan. Kita mengenal nama Raja Melkisedek dari
kitab Kejadian. Kemudian dalam Mazmurnya, Daud juga menyebut nama
tersebut. Rasul Paulus dalam tulisannya di kitab Ibrani juga mengutip nama
itu.
Di dalam bahasa Ibrani, nama itu memiliki arti Raja Kebenaran (King
of Righteousness). Kitab Kejadian juga mencatat, Melkisedek adalah Raja
Salem. Negara ‘Salem’ ini diartikan juga sebagai ‘Shalom’. Sehingga nama
inipun diartikan sebagai Raja Damai.
Di dalam kehidupan keseharian mari kita juga mengusahakan menjadi
‘Melkisedek’ jaman ini. Dalam konteks pekerjaan saat ini, “raja kebenaran”
ini melambangkan kepemimpinan yang adil, beretika, dan berintegritas.
Sebagai Raja Salem, mengartikan bahwa kita saat ini dapat memimpin
komunitas atau pekerjaan sambil tetap menjaga integritas spiritual.
Setelah memenangkan pertempuran yang sulit, Melkisedek menemui
Abraham, membawa roti dan anggur, dan mengingatkan bahwa
kemenangannya berasal dari “Allah Yang Mahatinggi”.
Saat memperoleh keberhasilan dalam pekerjaan, mendapatkan
promosi, atau proyek yang sukses, sangat penting kita mengingat dan
mengakui bahwa kemampuan untuk meraih keberhasilan ini berasal dan
bersumber dari Tuhan, bukan karena usaha atau kehebatan kita pribadi.
Abraham mempersembahkan persepuluhan dari segala sesuatu yang telah
ia peroleh kepada Melkisedek. Bukan karena aturan hukum, tetapi
merupakan pengakuan sukarela atas berkat Tuhan. Mempersembahkan
sebagian dari penghasilan kita untuk pekerjaan Tuhan, menunjukkan
keyakinan kita akan pemeliharaan dan penyediaan dari Tuhan.
Mari menjalani kehidupan kita sebagai agen-agen kebenaran dan
keadilan. Sambil terus memandang Sumber Kebenaran dan Kedamaian Kita.
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”
Yohanes 14:6