Tidak semua musim hidup dapat kita pahami. Ada masa ketika
berbagai hal seperti tidak tersusun dengan baik: relasi menjadi rumit,
rencana berubah, keputusan yang kita sesali meninggalkan akibat, dan doa-
doa seakan belum mendapatkan jawaban. Kita melihat hidup kita dan
bertanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau sedang membawa semua ini ke
mana?”
Keluarga Yakub memberi gambaran yang sangat manusiawi tentang
keadaan itu. Rumah tangganya dipenuhi luka, persaingan Lea dan Rahel,
kecemburuan, serta keinginan untuk mendapatkan kasih dan penerimaan.
Namun di balik kehidupan yang begitu kusut itu, Allah tidak kehilangan
arah. Tanpa disadari oleh mereka, Allah sedang membentuk keluarga yang
kelak menjadi umat perjanjian-Nya.
Kebenaran ini mendapat terang yang lebih penuh dalam Efesus 1:11.
Paulus mengatakan bahwa Allah “mengerjakan segala sesuatu menurut
keputusan kehendak-Nya.” Kata “mengerjakan” menunjuk kepada Allah
yang aktif bekerja. Ia bukan penonton yang hanya bereaksi terhadap apa
yang terjadi. Dan Paulus berani mengatakan, “segala sesuatu”, bukan hanya
bagian hidup yang nyaman atau mudah kita mengerti. Namun perhatikan
konteksnya: ayat itu dimulai dengan perkataan “di dalam Dia,” yaitu
Kristus. Jadi keyakinan akan providensia Allah bukanlah optimisme kosong
bahwa pada akhirnya semuanya pasti baik-baik saja. Dasarnya adalah
Kristus. Allah yang telah menggenapi rencana keselamatan-Nya di dalam
Kristus adalah Allah yang sama yang memegang hidup umat-Nya.
Ini tidak berarti setiap peristiwa adalah baik. Dosa tetap dosa,
kehilangan tetap menyakitkan, dan kekacauan tetap dapat melukai. Tetapi
tidak satu pun dari semuanya itu berada di luar kedaulatan Allah. Bahkan
ketika kita belum melihat jawabannya, kita tetap dapat belajar berdoa, taat,
dan berjalan setapak demi setapak sambil mempercayakan hasil akhirnya
kepada-Nya. Karena itu, kita tidak perlu menunggu hidup menjadi rapi
untuk percaya; kita percaya justru ketika jalan di depan masih samar.
Mungkin kita belum melihat polanya, tetapi oleh iman kita percaya
bahwa Allah tidak pernah kehilangan rancangan-Nya. Di dalam Kristus,
hidup kita tidak pernah lepas dari kendali Allah, bahkan ketika jalan-Nya
belum kita pahami.