Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan
roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang
dicintai-Nya pada waktu tidur.
MAZMUR 127:2
Tentu kita sangat akrab dengan istilah ‘lembur’ dalam pekerjaan.
Lembur adalah menambah jam kerja di luar jam kerja normal atau yang
telah ditentukan. Alasannya bermacam-macam. Ada yang karena pekerjaan
utama belum selesai dan dikejar oleh tenggat waktu, atau ada yang memang
sengaja lembur untuk memperoleh tambahan penghasilan. Bahkan tidak
jarang ada orang yang mengusahakan atau mengejar jam lembur karena
itulah cara paling mudah untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Walhasil ia bersedia untuk bekerja hingga larut malam dan mengurangi jam
istirahat normalnya.
Tentu tidak salah untuk bekerja keras atau memakai akal budi untuk
mencari rezeki. Persoalannya adalah kepada apa dan siapa ia
menggantungkan pemeliharaannya? Ini akan berujung pada apa yang akan
menjadi responsnya pada waktu ia memperoleh berkat dan penghasilan. Ia
akan menaikkan syukur kepada Allah Sang pemberi berkat, atau ia puas
serta bermegah atas jerih lelahnya?
Selain itu, patut ditanyakan juga pendorong utama seseorang bekerja
ekstra keras. Pendorong ini akan mempengaruhi sikap dan cara kerjanya.
Sangat mungkin orang yang bekerja super giat itu bersumber dari
kekhawatirannya akan kehidupan di dunia. Kekhawatiran yang sanggup
menyingkirkan iman dan harap kepada Tuhan, Allah yang memelihara.
Ketika kerja keras mulai menampakkan hasil, sangat mudah bagi seseorang
untuk merasa bahwa ia tidak memerlukan Allah.
Pemazmur mengingatkan kita bahwa Allah sanggup memberikan
rezeki kepada mereka yang bekerja dengan “normal”. Kata kuncinya adalah
“yang dicintai-Nya”. Orang yang berkenan kepada Allah tentu bukan sekadar
orang yang rutin beribadah, namun ibadah itu akan memberikan pengaruh
baginya dalam mengelola waktu dan kehidupannya. Di dalam
persandarannya kepada Allah, ia dapat tidur dengan nyenyak, ketika
waktunya untuk tidur. Ia menyerahkan urusan “roti” kepada Allah sumber
segala berkat.
Sekali lagi, bergantung dan pasrah kepada Allah tidaklah berarti kita
cukup berdiam diri menanti rezeki. Namun, kita diingatkan bahwa kerja dan
usaha semestinya tetap dalam keyakinan bahwa Dia lah Allah yang
memelihara mereka yang dikasihi Nya.