Kita sering mendengar mengenai sekelompok orang khusus yang
memiliki kemampuan khusus dan dikirim untuk melakukan pekerjaan atau
tugas khusus. Mereka bisa berupa pasukan elit sebuah negara, atau sebuah
tim kerja dalam sebuah perusahaan besar. Persiapan atau latihan yang
dijalani oleh mereka terbilang tidak mudah. Namun diujung dari pelatihan
itu, mereka akan merasa bangga dengan tugas yang mereka emban.
Di Alkitab, kita membaca banyak tokoh yang sebelum dipakai secara
efektif oleh Allah, mereka mengalami berbagai pembentukan. Pembentukan
dan pelatihan Allah itu pada umumnya berupa kesulitan bahkan
penderitaan. Ada cerita mengenai Musa, Yusuf, Daniel, Para Rasul dan
sebagainya. Mereka yang bertahan dalam pelatihan Allah, biasanya menjadi
alat yang lebih efektif dibanding dengan kehidupan nyaman sebelumnya.
Seperti emas yang dibakar supaya berkilau, demikianlah seringkali
kehidupan yang gemilang adalah hasil dari sebuah tempaan yang
menyulitkan. Tanah liat, tanpa diproses dan dibentuk, tetaplah tanah liat.
Akan dijual relatif murah. Namun ketika ia “bersedia” diproses dan
dibentuk, tanah liat akan menjadi barang yang lebih berguna. Pemrosesan
bisa berupa dibanting, dikikis dan sebagainya. Tidak menyenangkan, namun
berharga.
Kita tidak perlu mengharapkan atau bahkan mencari-cari penderitaan
dan kesulitan ketika rindu dipakai Allah. Dia tahu bagaimana
mempersiapkan dan melatih orang yang akan dipakai-Nya. Bagian kita
adalah bertekun seandainya pelatihan dari Allah terasa berat. Mari
menyadari bahwa seringkali melalui kesulitan, kita menjadi lebih siap untuk
menjadi alat di tangan-Nya. Kisah salib Kristus menjadi petunjuk bahwa
sebagai pengikut-pengikut-Nya, kita tidak bisa menghindar jalur sulit
tersebut. Penderitaan menjadi sahabat akrab bagi mereka yang mengusung
Berita Injil. Penolakan seringkali lebih banyak kita jumpai daripada
sambutan hangat. Hanya mereka yang bersedia dilatih, yang akan terus
bertahan di arena yang tak ramah. Bertekunlah dalam setiap pelatihan Allah.
ROMA 5:3-5
“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa
kesengsaraan itu menimbulkan ketabahan, ketabahan menimbulkan tahan uji dan
tahan uji menimbulkan pengharapan. Pengharapan tidak mengecewakan…”