“Aku dipenjara karena menceritakan Yesus kepada orang lain.”
Kalimat sederhana itu diucapkan Boun, seorang percaya di Laos.
Karena imannya, ia dipenjara, diinterogasi, dan diperlakukan dengan keras.
Namun yang paling membuatnya gentar bukanlah penderitaan fisik,
melainkan hidup tanpa Alkitab. Setiap hari ia berdoa agar Tuhan
memberinya firman-Nya. Ketika akhirnya ia berhasil membawa sebuah
Alkitab ke dalam penjara, kitab itu kemudian ditemukan dan dirobek oleh
penjaga. Tetapi Boun tidak menyerah. Ia berkata bahwa ia akan terus
mencari kesempatan untuk membaca firman Tuhan. Selama sepuluh tahun
berikutnya di penjara, firman Allah menjadi kekuatan yang menopang
imannya. Kisah Boun mengingatkan kita bahwa misi tidak lahir dari keadaan
yang aman dan nyaman.
Misi dimulai dari Allah, dan sering kali berjalan melalui jalan yang
tidak kita pilih. Yusuf pun tidak pernah membayangkan bahwa
pengkhianatan saudara-saudaranya akan menjadi bagian dari rencana Allah.
Ia ditangkap, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual sebagai budak. Dari
sudut pandang manusia, hidupnya sedang dihancurkan. Namun Allah justru
memakai jalan yang gelap itu untuk memelihara banyak orang. Pola ini
mencapai puncaknya dalam salib Kristus. Yesus diserahkan “menurut
maksud dan rencana Allah,” tetapi dibunuh oleh tangan manusia berdosa.
Salib adalah bukti bahwa kejahatan manusia tidak pernah sanggup
menggagalkan karya keselamatan Allah.
Karena itu, memasuki Bulan Misi, kita perlu mengingat bahwa gereja
bukan sedang memulai pekerjaan bagi Allah. Kita sedang mengambil bagian
dalam pekerjaan yang telah lebih dahulu dimulai-Nya. Dialah yang mencari,
menyelamatkan, mengutus, dan menopang umat-Nya. Bulan Misi bukan
sekadar waktu untuk mendengar laporan para utusan atau mengumpulkan
persembahan khusus. Bulan Misi adalah undangan untuk kembali melihat
hati Allah bagi dunia dan menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil
menjadi saksi-Nya, di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Mungkin kita merasa kecil, takut, atau tidak siap. Namun Allah
sanggup memakai kesaksian yang sederhana, doa yang setia, persembahan
yang tulus, dan ketaatan sehari-hari. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang
dapat kita lakukan bagi misi?” melainkan, “Di manakah Allah sedang
bekerja, dan bagaimana kita dapat taat mengambil bagian di dalamnya?”
- 2 August, 26
- 23:31
- Majelis One Sisfo