Mari kita kembali membayangkan adegan (Scene ke 1) dari perikop
bacaan dua minggu yang lalu (Kejadian 27:1-35), bagaimana Ribka dan
Yakub merancang skenario untuk menipu Ishak, sehingga akhirnya Yakub-
lah yang mendapatkan berkat. Lalu timbul pertanyaan, apakah keberhasilan
Yakub mendapatkan berkat karena faktor kepintaran Yakub dalam menipu,
dan ditambah dengan faktor mata Ishak yang sudah tidak bisa melihat
dengan jelas? Tentu saja tidak! keberhasilan Yakub mendapatkan berkat
sudah ditetapkan Allah sebelum Esau dan Yakub lahir (Kejadian 25:23).
Allah bisa menguasai lidah dan tangan manusia, jadi tanpa scenario itupun,
berkat akan sampai kepada Yakub.
Mari kita bandingkan dengan adegan (Scene ke 2) ketika Yakub sudah
sangat tua, dan hendak memberkati kedua anak Yusuf, Manasye dan Efraim,
tangan kanan Yakub di atas kepala Efraim dan tangan kiri di atas kepala
Manasye, walaupun sebenarnya Manasye si sulung berlutut di sebelah kanan
Yakub, dan Yusuf pun sudah menegaskan kembali hal itu, tetapi di dalam
kesadaran Yakub, ia tunduk di bawah kedaulatan kuasa Allah yang
menuntun tangannya untuk memberikan berkat yang lebih besar kepada
Efraim (Kejadian 48: 1-20).
Dua scene yang mirip, dengan pemeran utama yang sama Yakub, tetapi
dengan karakter yang berbeda. Yakub masa muda yang memaksakan
kehendaknya, hingga memakai cara-cara yang tidak benar untuk
mendapatkan berkat, akibatnya harus melarikan diri, berpisah dengan orang
tuanya, hidup dalam pengembaraan. Sebaliknya Yakub masa tua, bersaksi
bahwa Allah adalah gembala yang telah memelihara sepanjang hidupnya,
dia mempunyai kedekatan dan kepekaan akan kehendak Allah.
Dua scene yang menunjukkan Allah yang berdaulat dalam kehidupan
manusia dan Allah yang memelihara umat-Nya. Yakub adalah cerminan
hidup kita, yang jatuh bangun dalam dosa, dan juga mengalami segala
macam penderitaan. Tetapi percayalah bahwa Allah yang setia, akan
mendidik, memimpin dan mengarahkan hidup kita ke jalan yang benar dan
kepada diri-Nya sendiri.