Kebanyakan kita yang bekerja dan tinggal di Singapura sedikit banyak
mengerti apa artinya menjadi seorang perantau di negeri orang. Kita mengadu
nasib di Singapura, dan kita berharap suatu saat bisa kembali ke rumah
keluarga dan sanak-saudara di kampung halaman kita, dan akhirnya kita bisa
berkata “Home sweet home!”
Di Bethel, Yakub mengalami perjumpaan dengan Allah YHWH -Allah yang
berjanji dengan Abraham dan Ishak, dan di situ Allah meneguhkan perjanjian-
Nya dengan Yakub. Tidak seperti dewa-dewi yang dipercayai oleh bangsa
Mesopotamia dan sekitarnya, Allah Pencipta semesta alam tidak dibatasi oleh
wilayah geografis tertentu. Dia sanggup menyertai, melindungi, dan
memelihara umat-Nya di manapun mereka berada. Dan Allah juga berjanji
untuk membawa Yakub kembali ke tanah yang dijanjikan-Nya. Penglihatan
akan tangga yang menghubungkan surga ke bumi memberikan Yakub
penguatan dan peneguhan akan penyertaan Allah dalam masa
pengembaraannya itu.
Kita semua adalah musafir di dunia ini. Dalam keberdosaan kita diusir
dari hadirat Allah yang Maha Kudus. Namun di dalam Kristus, tangga di Bethel
yang menghubungkan langit dan bumi itu sudah datang (Yohanes 1:51). Dalam
penyertaan Roh Kudus, Allah memenuhi janji-Nya untuk tinggal beserta kita
selamanya. Dan Allah juga berjanji akan membawa kita kembali ke rumah-Nya
di sorga kelak -home sweet home. Kiranya melalui renungan dan kotbah hari ini
kita diingatkan bahwa rumah kita yang sejati bukanlah di dunia ini. Semegah
apapun rumah yang bisa kita bangun di dunia ini, tidak akan seindah dan
sekekal rumah kediaman kita bersama Allah Bapa kita di sorga. Mungkin ada
di antara kita yang merasa seolah-olah kita tersendiri di dalam perantauan –
terisolasi, cemas, atau lelah. Ingatlah di dalam Kristus dan dalam penyertaan
Roh Kudus kita tidak ditinggal sendirian. Allah juga memberikan komunitas
saudara/i seiman dalam Kristus untuk berjalan bersama kita.