“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi
janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
– Kejadian 32:1–21; Matius 26:39
Ketakutan sering muncul ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang
tidak dapat kita kendalikan. Itulah yang dialami Yakub dalam Kejadian 32.
Ketika mendengar bahwa Esau datang menemuinya dengan empat ratus
orang, “Yakub sangat takut dan merasa sesak hati” (Kej. 32:7). Masa lalu
yang belum selesai seperti kembali berdiri di hadapannya.
Respons Yakub sangat manusiawi. Ia membagi rombongannya, menyusun
strategi, dan mengirimkan hadiah kepada Esau. Ketika takut, kita pun
mudah melakukan hal yang sama: menghitung semua kemungkinan,
mencari jalan teraman, dan berusaha memastikan bahwa semuanya berjalan
sesuai rencana kita. Namun di tengah ketakutannya, Yakub juga kembali
kepada Tuhan dan mengingat janji-Nya.
Di Getsemani, kita melihat sesuatu yang lebih dalam. Yesus tahu salib
ada di hadapan-Nya. “Cawan” (potērion) yang disebut-Nya menunjuk pada
penderitaan yang harus Ia tanggung dalam karya keselamatan Allah. Ia
berdoa agar cawan itu “lalu” daripada-Nya. Kata parelthatō berarti “berlalu”
atau “menjauh.” Doa ini menunjukkan bahwa iman tidak berpura-pura kuat
atau menyangkal kegentaran. Namun pusat doa Yesus ada pada kata:
“tetapi.” “Bukan seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau
kehendaki.” Di sinilah iman mencapai kedalamannya. Iman bukan keyakinan
bahwa Allah akan selalu melakukan apa yang kita inginkan. Iman adalah
keberanian mempercayai kehendak Bapa ketika jalan-Nya berbeda dari
keinginan kita.
Yakub belajar bahwa hidupnya tidak dapat diamankan hanya oleh
strateginya. Kristus menunjukkan dengan sempurna bahwa hidup yang
beriman adalah hidup yang diserahkan kepada Bapa. Mungkin kita sedang
menghadapi konflik lama, keputusan berat, atau masa depan yang tidak
pasti. Kita boleh berkata, “Tuhan, aku takut.” Tetapi iman tidak berhenti di
sana. “Bapa, aku tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi
aku tahu kepada siapa aku menyerahkan hidupku.”
Ketakutan mungkin belum langsung hilang. Namun ketika hidup kita
diserahkan kepada Bapa, kita tidak lagi dipimpin oleh rasa takut, melainkan
oleh iman kepada Dia yang tetap memegang hidup kita.