Di atas salib, Yesus berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Ini bukan kalimat yang rapi.
Ini bukan doa yang tenang.
Ini adalah jeritan.
Jeritan dari seseorang yang merasakan kesunyian yang paling dalam.
Yang mengejutkan bukan hanya penderitaan-Nya,
tetapi kenyataan bahwa Ia, Anak Allah, mengalami apa yang terasa seperti ditinggalkan oleh Allah sendiri.
Selama hidup-Nya, Yesus selalu hidup dalam persekutuan yang dekat dengan Bapa. Namun di saat ini, di salib, yang Ia rasakan adalah kegelapan. Keheningan. Keterpisahan.
Mengapa? Karena di sana Ia berdiri di tempat kita. Ia memikul dosa manusia, segala pemberontakan, segala kegagalan, segala kejahatan, dan menanggung akibatnya.
Bukan hanya rasa sakit, tetapi juga jarak dengan Allah.
Dan justru di sinilah kita mulai melihat kasih yang begitu dalam.
Yesus masuk ke dalam pengalaman yang paling kita takuti: ditinggalkan, sendirian, tidak ditolong, supaya tidak ada satu pun dari kita yang harus berjalan di sana sendirian.
Karena itu, ketika dalam hidup kita ada saat-saat di mana kita berkata: “Tuhan, di mana Engkau?” “Mengapa Engkau diam?”
Jumat Agung tidak langsung menghilangkan pertanyaan itu. Tetapi Jumat Agung mengubah cara kita memandangnya.
Kita tidak lagi bertanya sebagai orang yang tidak dikenal Allah, tetapi sebagai orang yang dikasihi, oleh Dia yang pernah masuk ke dalam kegelapan itu. Artinya, bahkan ketika kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, kita tidak pernah benar-benar jauh dari-Nya.
Salib menjadi pengingat: Tuhan tidak asing dengan rasa sepi kita. Ia pernah ada di sana.
Jumat Agung tidak menuntut kita untuk langsung kuat. Tidak memaksa kita untuk punya semua jawaban. Jumat Agung mengundang kita untuk jujur.
Karena di salib itu, kita melihat bahwa bahkan dalam jeritan yang paling gelap sekalipun, kita masih berada di dalam jangkauan kasih Allah. Dan itu berarti kita tidak pernah sendirian.
~Pdt. Anthon Simangunsong