Kiasu (Takut kalah) adalah sebuah istilah yang sangat popular dan
sudah menjadi budaya di Singapura. Kita dapat melihat pengaruh dari
budaya ini setiap harinya, mungkin waktu naik mrt atau bis, mungkin waktu
makan di food center, mungkin di kantor atau bahkan mungkin di gereja
pun kita dapat melihatnya. Ada yang menggatakan budaya ini punya
dampak positifnya, yaitu membuat orang berusaha keras untuk
mendapatkan hasil yang bagus, tetapi jika dipikirkan lebih mendalam lagi,
mau dampak positif ataupun negatif, pada intinya tetap sama yaitu sebuah
mindset yang hanya berpusat pada diri sendiri.
Perikop minggu ini (Kejadian 13) memperlihatkan dua orang dengan
karakter yang berbeda. Lot sebagai keponakan Abram, ketika diberi
kesempatan untuk memilih daerah terlebih dahulu, dia memperlihatkan
karakter kiasunya, tanpa sungkan-sungkan dia memilih tempat yang
dilihatnya sangat baik, tanpa mempertimbangkan kondisi tempat itu,
apakah dapat membawa dampak buruk bagi dia. Sedangkan Abram
menunjukkan karakter yang tidak mau ada keributan dan berusaha mencari
damai, sekalipun dengan keponakannya sendiri (Lot), yang sebelumnya
menjadi pengikut di dalam perjalanan dia.
Setelah sebelumnya melakukan kesalahan di Mesir (Kej 12:10-20),
maka kali ini Abram bertindak benar, memilih mengutamakan perdamaian
dan memberikan haknya kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu.
Tindakan Abram ini sangat dihargai oleh Tuhan, sehingga Tuhan kembali
meneguhkan janji-janji-Nya kepada Abram, dan Abram meresponinya
dengan penyembahan kepada Tuhan.
Di tengah dunia yang sangat kompetitif ini, di mana semuanya
bergerak dan berubah dengan begitu cepat, persaingan sering kali sudah
menjadi tidak sehat lagi, membuat orang hanya berpikir untuk dirinya
sendiri dan menuntut haknya lebih diutamakan dari yang lain, tetapi melalui
perikop minggu ini kita diingatkan kembali untuk belajar seperti Abram,
bertindak dengan benar di hadapan Tuhan dan memegang teguh janji-janji-
Nya.