Kejadian 31:29
Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman
kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah katapun.
Apabila kita mendengar kata konflik, pastilah sebagian dari kita mengernyitkan
dahi, mungkin dalam hati berpikir “hadeuh, apalagi sih?” atau “kenapa tidak pernah ada
kedamaian?”. Kita cenderung berusaha menghindar dari konflik atau bahkan menjadi
alergi terhadap konflik. Faktanya adalah konflik setiap saat terjadi ditengah tengah kita,
baik konflik yang ditimbulkan oleh kita sendiri ataupun konflik yang melibatkan kita
secara langsung maupun tidak langsung. Kabar baik bagi semua orang, baik yang takut
atau tidak takut akan konflik, maupun yang terluka oleh konflik, adalah: konflik adalah
kesempatan bagi kita untuk mengalami langsung campur tangan Tuhan yang membawa
damai dan diubahkan olehNya.
Alkitab penuh dengan kisah konflik dalam skala besar maupun personal sejak
zaman Adam dan Hawa. Demikian juga Yakub yang mengalami banyak pergumulan dan
pergesekan khususnya dengan pamannya Laban. Kalau kita teliti lebih dalam, masing
masing memiliki pandangan yang berbeda akan segala harta kekayaan Yakub. Dari segi
Yakub (dan didukung oleh Lea dan Rahel), segala sesuatu yang ada termasuk Lea dan
Rahel adalah diambil Allah dari Laban berdasarkan usaha yang sah dan sesuai dengan
perjanjian yang disetujui dengan Laban (Kej 31:14-16, 41-42). Tetapi sebaliknya dari sisi
Laban, segala sesuatu adalah milik Laban (Kej 31:43). Perbedaan pandangan seperti ini
adalah hal yang lazim terjadi didalam konflik. Masing masing pihak memiliki alasan
untuk mempertahankan bahwa dialah yang lebih benar. Tetapi satu hal yang menjadi
jalan menuju kedamaian didalam peristiwa ini adalah campur tangan Tuhan yang dialami
langsung oleh Yakub yang diperintahkan Tuhan untuk pulang ke negeri asalnya (Kej 31:
13) dan juga dialami langsung oleh Laban didalam Kej 31:24 Pada waktu malam
datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman
kepadanya: “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah
katapun.”. Tuhan bekerja langsung untuk menjadi pendamai didalam konflik antara
Yakub dan Laban untuk menggenapi rencana besar Allah melalui Yakub.
Konflik terbesar didalam kehidupan kita adalah perseteruan kita manusia yang
berdosa dengan Allah yang membawa konsekuensi kematian abadi bagi kita manusia.
Mana mungkin kita yang adalah manusia ciptaan menang terhadap Sang Pencipta kita.
Tetapi Yesus adalah Sang Raja Damai yang menebus segala harga yang perlu dibayar
akibat dosa, kebodohan dan kesalahan kita manusia, melalui pengorbanan-Nya di kayu
salib. Apabila kita telah diselamatkan dan didamaikan dengan Allah melalui pengorbanan
darah anak-Nya Yesus yang mahal, bagaimana mungkin kita tidak membawa dan
menularkan damai yang sama bagi sekeliling kita. Yesus, mengosongkan diri bahkan
menjadi hamba, untuk membawa damai bagi kita manusia dihadapan Allah.
Pertanyaannya adalah apakah kita menuruti teladanNya. Konflik ada disekeliling kita dan
menjadi kesempatan bagi kita untuk menuruti teladan, mengenal dan mengalami Sang
Raja Damai dengan lebih dalam.