Bayangkan apabila ada seorang anak muda menukarkan harta pusaka
keluarganya yang tidak ternilai harganya demi sepotong es krim kesukaannya.
Kedengarannya tidak masuk akal. Pasti ada cara pandang atau penilaian yang
salah dalam diri orang tersebut. Namun kenyataannya, banyak orang rela
menukarkan warisan kekekalannya demi kenikmatan sementara.
Ketika Esau pulang berburu dengan tangan dan perut yang kosong, dan
dia mencium bau sup merah yang dimasak oleh Yakub, maka dia memohon
kepada Yakub untuk dapat menikmati semangkuk sup buatannya itu. Yakub
memanfaatkan momen itu untuk mengambil hak kesulungan yang selama ini
dia incar dari Esau. Hak kesulungan dalam garis keturunan Abraham itu bukan
sekedar menjanjikan bagian dobel dalam warisan secara materi, tetapi juga
mengandung perjanjian sakral –yaitu garis keturunan yang melaluinya Allah
menjadikan bangsa pilihan-Nya dan mendatangkan Mesias sebagai Juruselamat
umat manusia. Kesalahan Esau bukanlah rasa laparnya, melainkan
perlakuannya terhadap ‘harta berharga’ yang dimilikinya, yaitu relasi
perjanjian (covenant) yang kekal dengan Allah. Esau menganggap remeh relasi
covenant dengan Allah demi memuaskan perutnya yang lapar.
Kasih dan relasi covenant dengan Allah adalah harta paling berharga yang
kita miliki —dibeli bukan dengan harta atau makanan yang fana, tetapi dengan
darah Kristus yang kekal dan mulia. Di jaman yang serba instan ini kita terus-
menerus digoda untuk menjual ‘harta’ kita demi ‘semangkuk sup’ kenikmatan
atau kepuasan sesaat. Renungan Minggu ini mengingatkan kita untuk
memeriksa cara pandang dan sistem penilaian dalam hidup kita. Apakah ‘harta
yang paling berharga’ dalam hidup Anda? Akankah Anda menukarkan apa
yang kekal dengan apa yang bersifat sementara?