Ada sukacita yang lahir bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi
karena kita akhirnya melihat bahwa Allah setia. Sukacita seperti ini tidak
dangkal. Ia lahir setelah penantian panjang, pergumulan iman, dan
kesadaran bahwa manusia terbatas, tetapi Allah tidak pernah gagal.
Kejadian 21:1–7 memberi kita gambaran itu. Abraham dan Sara
menanti sangat lama. Secara manusia, kelahiran Ishak tampak mustahil.
Namun Alkitab berkata, Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang
dijanjikan-Nya. Maka Sara tertawa. Bukan lagi tawa ketidakpercayaan, tetapi
tawa sukacita. Allah mengubah penantian menjadi penggenapan, dan
penggenapan menjadi pujian. Namun Ishak bukan puncak janji Allah. Ishak
adalah tanda yang menunjuk ke depan. Sukacita Sara adalah bayangan dari
sukacita yang lebih besar, yaitu ketika Allah menggenapi janji keselamatan-
Nya di dalam Kristus.
Itulah yang Paulus nyatakan dalam Galatia 4:4–5: “Tetapi setelah
genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” Kristus datang bukan
terlalu cepat, bukan terlambat, bukan kebetulan. Ia datang pada waktu Allah
yang sempurna. Di balik sejarah yang tampak biasa, Allah sedang menuntun
segala sesuatu menuju penggenapan janji-Nya. Paulus berkata bahwa
Kristus “lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”
Anak Allah sungguh masuk ke dalam keadaan manusia. Ia tidak hanya
datang mendekat kepada kita; Ia berdiri di tempat kita. Di bawah hukum
Allah, Ia hidup dengan ketaatan yang sempurna, di tempat kita gagal dan
berdosa.
Mengapa Ia datang? “Untuk menebus mereka yang takluk kepada
hukum Taurat.” Inilah inti sukacita Injil. Kristus bukan hanya membawa
penghiburan; Ia membawa penebusan. Ia bukan hanya memberi harapan; Ia
membayar harga keselamatan kita. Dan tujuan akhirnya sangat indah:
“supaya kita diterima menjadi anak.” Di dalam Kristus, kita bukan hanya
dibebaskan dari hukuman, tetapi dibawa masuk ke dalam keluarga Allah.
Kita yang tidak layak, diterima. Kita yang jauh, didekatkan. Kita yang hamba
dosa, dijadikan anak.
Sebagai umat Tuhan yang masih menjalani berbagai pergumulan dan
penantian, kita diingatkan bahwa sukacita terbesar bukanlah ketika semua
masalah selesai, melainkan ketika kita tahu bahwa Allah telah
menggenapi janji-Nya di dalam Kristus. Di dalam Dia, kita memiliki
keselamatan, penerimaan, dan pengharapan yang kekal.